Angklung dan Sustainable Development Goals | AngklungKita

Angklung dan Sustainable Development Goals

by | Mar 27, 2018 | artikel |

Sustainable Development Goals atau SDG’s adalah 17 gol pembangunan berkelanjutan yang disepakati negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk dicapai di tahun 2030. Gol-gol tersebut berpusat pada 3 hal yaitu, perkembangan ekonomi (economic growth), keterlibatan sosial (social inclusion), dan perlindungan lingkungan (environmental protection).

Bicara konservasi lingkungan, kita perlu belajar banyak pada leluhur masyarakat yang melahirkan angklung yaitu suku Baduy. Suku Baduy tinggal di pedalaman Banten, dahulu menjadi bagian dari provinsi Jawa Barat, Indonesia. Suku Baduy bertahan di tengah perkembangan zaman. Mereka mempertahankan keseharian hidup mereka yang dekat dengan alam dan sangat peduli dengan kelestarian lingkungan. Masyarakat Suku Baduy meyakini mereka dilahirkan sebagai penjaga alam dan lingkungan yang dianugerahkan Tuhan untuk manusia. Hingga saat ini, mereka berjalan sehari-hari tanpa alas kaki, beberapa hidup tanpa listrik, dan melaksanakan ritual sehari-hari yang berhubungan dengan pertanian, cocok tanam, pemeliharaan air, dan penghijauan. Angklung mereka ciptakan dan mainkan sebagai cara merayu Dewi Sri agar bersedia menyuburkan tanah dan menyukseskan panen padi.

Pada tahun 1938, angklung tradisional ala suku Baduy dikonversi ke dalam nada diatonis kromatis oleh Daeng Soetigna. Selain dilandaskan semangat inovasi, hal ini dilandaskan pada semangat edukasi dan pengembangan komunitas. Daeng Soetigna adalah guru musik di pedalaman Kuningan, Jawa Barat. Ia menghadapi hambatan untuk mengajarkan musik Barat kepada anak-anak sekolah dasar yang tidak memiliki alat musik seperti biola, gitar, atau piano. Ia kemudian terdorong menemukan alat musik yang terjangkau secara ekonomi, salah satunya dengan cara memainkannya secara berkelompok. Oleh karena itu, meski nadanya sudah dikonversi ke nada alat musik Barat, karakteristik angklung yang mengandung hanya satu nada di setiap instrumen tetap dipertahankan oleh Daeng Soetigna. Karakteristik ini yang membuat angklung memiliki kekuatan dalam mendidik keterampilan sosial dan menumbuhkembangkan kolaborasi. Tak heran mengapa angklung ditetapkan sebagai alat musik pendidikan oleh SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 062 tahun 1968.

Angklung pun membuktikan bahwa ia mampu terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Setelah tumbuh di berbagai sekolah dan ditampilkan dalam format orkestra, angklung mulai memiliki format-format baru dari sisi penampilan. Arumba, atau Alunan Rumpun Bambu, adalah inovasi angklung berkombinasi dengan alat musik bambu lain seperti gambang, dan juga perkusi. Beberapa tahun terakhir muncul pula Angklung Toel, yaitu angklung dalam bentuk piano, sehingga bisa dimainkan secara solo. Angklung Toel kini sedang dieksplorasi untuk masuk ke berbagai genre musik, salah satunya Electronic Dance Music yang digawangi oleh Manshur Praditya atau Manshur Angklung.

Tak hanya berperan sebagai alat musik, angklung juga digunakan sebagai media terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus hingga lansia. Hal ini sudah dilakukan oleh Ikatan Syndroma Down Indonesia dan Esplanade Theatres on the Bay Singapore dalam workshop yang diselenggarakan di panti-panti jompo di Singapore.

Terdapat 6 kata kunci bagi angklung dalam kaitannya dengan SDG’s yaitu Conservation, Education, Community, Innovation, Well Being, dan Collaboration. Jika keenam kata kunci ini dipegang teguh dan menjadi landasan nilai kegiatan-kegiatan angklung, maka angklung akan sangat berperan dalam pencapaian SDG’s di tahun 2030.

Tema angklung dan SDG’s ini yang diangkat oleh Fakultas Teknik Industri Universitas Telkom Bandung. Dalam kompetisi tahunan proposal rekaya industri bertajuk INCREASE di tahun 2018 ini, diselenggarakan Malam Kebudayaan yang menampilkan Educative Talk “6 Keys Angklung for SDG’s” oleh Founder dan CEO IndoLecture AngklungKita, Roswita Amelinda. Acara juga dimeriahkan oleh penampilan memukau dari tim angklung dan arumba Harmoni Paduan Angklung (Harpa) SMKN 4 Bandung beserta Manshur Angklung yang berhasil menghentak gedung acara dengan angklung dalam balutan electronic dance music (EDM).

Sebuah kolaborasi yang indah, berawal dari kepedulian mahasiswa-mahasiswa Teknik Industri Universitas Telkom terhadap kebudayaan bangsanya. Semoga semangat yang sama dapat menular kepada lebih banyak mahasiswa Indonesia. Lestari Angklung Indonesia!

Roswita Amelinda 

 

Book Your Angklung Performance!

Calendar is loading...
captcha

Contact Us

We’d love to hear from you! Have a question? Find us below:
Office Address:  Jalan Suryalaya II no. 2, Bandung, Jawa barat

Phone Number:  +6281221925587